Faktor – Faktor Pencegah Cidera Dan Penanggulangannya
Cedera Olah Raga adalah cedera pada sistem otot dan rangka tubuh yang disebabkan oleh kegiatan olah raga.
Cedera olah raga yang sering terjadi adalah:
- Patah tulang karena tekanan
- Shin splints
- Tendinitis
- Lutut pelari
- Cedera urat lutut
- Punggung altit angkat besi
- Sikut petenis
- Cedera kepala
- Cedera kaki.
PENYEBAB
Cedera olah raga disebabkan oleh:
- metode latihan yang salah
- kelainan struktural yang menekan bagian tubuh tertentu lebih banyak daripada bagian tubuh lainnya
- kelemahan pada otot, tendon dan ligamen.
Kebanyakan cedera ini disebabkan oleh penggunaan jangka panjang, dimana terjadi pergerakan berulang yang menekan jaringan yang peka.
Metode Latihan Yang Salah.
Cedera Olah Raga adalah cedera pada sistem otot dan rangka tubuh yang disebabkan oleh kegiatan olah raga.
Cedera olah raga yang sering terjadi adalah:
- Patah tulang karena tekanan
- Shin splints
- Tendinitis
- Lutut pelari
- Cedera urat lutut
- Punggung altit angkat besi
- Sikut petenis
- Cedera kepala
- Cedera kaki.
PENYEBAB
Cedera olah raga disebabkan oleh:
- metode latihan yang salah
- kelainan struktural yang menekan bagian tubuh tertentu lebih banyak daripada bagian tubuh lainnya
- kelemahan pada otot, tendon dan ligamen.
Kebanyakan cedera ini disebabkan oleh penggunaan jangka panjang, dimana terjadi pergerakan berulang yang menekan jaringan yang peka.
Metode Latihan Yang Salah.
Metode latihan yang salah merupakan penyebab paling sering dari cedera pada otot dan sendi. Penderita tidak memberikan waktu pemulihan yang cukup setelah melakukan olah raga atau tidak berhenti berlatih ketika timbul nyeri. Setiap kali otot tertekan oleh aktivitas yang intensif, beberapa otot mengalami cedera dan otot yang lainnya menggunakan cadangan energinya yang tersimpan sebagai glikogen karbohidrat. Penyembuhan serat-serat otot dan penggantian glikogen memerlukan waktu lebih dari 2 hari. Sebagian besar program olah raga diselenggarakan secara bergantian; hari ini melakukan latihan berat, hari berikutnya beristirahat atau melakukan latihan ringan. Hanya perenang yang bisa melakukan latihan yang berat dan ringan setiap hari tanpa mengalami cedera. Kemungkinan daya ampung dari air membantu melindungi otot dan sendi para perenang.
Kelainan Struktural.
Kelainan struktural bisa menyebabkan seseorang lebih peka terhadap cedera olah raga karena adanya tekanan yang tidak semestinya pada bagian tubuh tertentu. Misalnya, jika panjang kedua tungkai tidak sama, maka pinggul dan lutut pada tungkai yang lebih panjang akan mendapatkan tekanan yang lebih besar. Faktor biokimia yang menyebabkan cedera kaki, tungkai dan pinggul adalah pronasi (pemutaran kaki ke dalam setelah menyentuh tanah).
Pronasi sampai derajat tertentu adalah normal dan mencegah cedera dengan cara membantu menyalurkan kekuatan menghentak ke seluruh kaki. Pronasi yang berlebihan bisa menyebabkan nyeri pada kaki, lutut dan tungkai. Pergelangan kaki sangat lentur sehingga ketika berjalan atau berlari, lengkung kaki menyentuh tanah dan kaki menjadi rata. Jika seseorang memiliki pergelangan kaki yang kaku, maka akan terjadi kebalikannya, yaitu pronasi yang kurang.
Kaki tampak memiliki lengkung yang sangat tinggi dan tidak dapat menyerap goncangan dengan baik, sehingga meningkatkan resiko terjadinya retakan kecil dalam tulang kaki dan tungkai (fraktur karena tekanan).
Kelemahan Otot, Tendon & Ligamen.
Jika mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada kekuatan alaminya, maka otot, tendon dan ligamen akan mengalami robekan.
Sendi lebih peka terhadap cedera jika otot dan ligamen yang menyokongnya lemah.
Tulang yang rapuh karena osteoporosis mudah mengalami patah tulang (fraktkur).
Latihan penguatan bisa membantu mencegah terjadinya cedera.
Satu-satunya cara untuk memperkuat otot adalah berlatih melawan tahanan, yang secara bertahap kekuatannya ditambah.
GEJALA
Nyeri pertama kali muncul jika serat-serat otot atau tendon yang jumlahnya terbatas mulai mengalami robekan.
Menghentikan latihan pada saat nyeri terjadi, akan mengurangi cedera pada serat-serat tersebut, sehingga pemulihan lebih cepat terjadi. Jika latihan tidak segera dihentikan, maka jumlah serat yang robek akan lebih banyak, sehingga kerusakannya lebih luas dan penyembuhannya menjadi lebih lama.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, keterangan dari penderita mengenai aktivitas yang dilakukannya dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan meliputi:
- CT scan
- MRI
- Artroskopi
- Elektromiografi
- Pemeriksaan dengan bantuan komputer lainnya untuk menilai fungsi otot dan sendi.
PENGOBATAN
Pengobatan segera untuk hampir semua cedera olah raga adalah istirahat, kompres es batu dan pengangkatan. Bagian yang terluka segera diistirahatkan untuk meminimalkan perdarahan dalam dan pembengkakan serta untuk mencegah bertambah parahnya cedera.
Es batu menyebabkan pembuluh darah mengkerut, membantu mengurangi peradangan dan nyeri. Membungkus daerah yang mengalami cedera dengan perban elastik dan mengangkatnya sampai diatas jantung, akan membantu mengurangi pembengkakan.
Pengompresan dengan es batu dilakukan selama 10 menit. Suatu perban elastik bisa dililitkan secara longgar di sekeliling kantong es batu.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, keterangan dari penderita mengenai aktivitas yang dilakukannya dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan meliputi:
- CT scan
- MRI
- Artroskopi
- Elektromiografi
- Pemeriksaan dengan bantuan komputer lainnya untuk menilai fungsi otot dan sendi.
PENGOBATAN
Pengobatan segera untuk hampir semua cedera olah raga adalah istirahat, kompres es batu dan pengangkatan. Bagian yang terluka segera diistirahatkan untuk meminimalkan perdarahan dalam dan pembengkakan serta untuk mencegah bertambah parahnya cedera.
Es batu menyebabkan pembuluh darah mengkerut, membantu mengurangi peradangan dan nyeri. Membungkus daerah yang mengalami cedera dengan perban elastik dan mengangkatnya sampai diatas jantung, akan membantu mengurangi pembengkakan.
Pengompresan dengan es batu dilakukan selama 10 menit. Suatu perban elastik bisa dililitkan secara longgar di sekeliling kantong es batu.
Akupuntur memiliki efek instant yang sangat cepat dalam membantu cedera olahraga. Bagaimana mekanisme kerja akupuntur sangat cepat dalam memulihkan nyeri akan dijelaskan dibawah.
Mekanisme Kerja Akupuntur
Bila titik akupuntur dirangsang maka akan terjadi beberapa macam reaksi yaitu :
1. Reaksi inflamasi local
2. Transduksi interseluler
3. Refleks kutaneosomtovisera
4. Transmisi neural ke otak
Bila suatu titik akupuntur dirangsang maka secara subjektif akan dirasakan
1. Nyeri tajam (serabut saraf A-group delta)
2. Nyeri tumpul (serabut saraf C)
3. Rasa berat (serabut korpuskel peka tekanan)
4. Rasa pembengkakan ( terpengaruhnya mikrosirkulasi dan peninggian permeabilitas)
5. Korona kemerah-merahan sekitar jarum masuk (dilatasi mikrosirkulasi)
6. Rsa hangat sekitar jarum masuk (peningkatan mikrosirkulasi)
7. Perangsangan lebih lanjut akan menimbulkan peninggian ambang nyeri dan apabila diteruskan akan timbul efek analgetik di daerah yang jauh dari titik yang dirangsang.
Secara garis besar kerja akupuntur akan menimbulkan efek berupa :
1. Analgesi
2. Regulasi
Efek regulasi dapat berupa :
1. Relaksasi otot yang spastic
2. Peninggian / perbaikan mikrosirkulasi, baik local maupun distal
3. Normalisasi tekanan darah
4. Penurunan kadar lemak yang tinggi dalam darah.
5. Penyembuhan hipersensitivitas kulit dan selaput lender terhadap berbagai faktor
6. Pemulihan dari depresi mental, keadaan hiperaktif dan anxiety
7. Perangsangan pelepasan hormone hipofisis ACTH
8. Peninggian reaksi imun dan resistensi terhadap infeksi bakteri.
9. Normalisasi aktivitas organ visera
10. Normalisasi kadar gula darah
11. Perangsangan regenerasi serabut saraf.
Rangsangan pada titik akupuntur dapat menimbulkan :
1. Efek regional
a. Reaksi jaringan
b. Refleks axon
c. Arus listrik
2. Efek sistemik
a. Efek analgesi
b. Efek regulasi
A. Efek regional
a. Rekasi jaringan
Cedera dinding sel akibat rangsangan titik akupuntur membebaskan asam arakidonat yang dikandungnya. Selanjutnya dihasilkan leotrin, prostaglandin E-2, tromboksan, dan prostasiklin.
Kerusakan endothelium pembuluh darah halus dan kapiler serta jaringan ikat akan menghasilkan fragmen kolagen, myofibril dan membrane basal, yang mengaktifan sistem pembekuan darah secara bertingkat.
Reaksi inflamasi buatan dilanjutkan dengan proses lain berupa reaksi anti-inflamasi
b. Refleks akson
Rangsangan penjaruman pada reseptor polimodal oleh saraf sensorik diteruskan selain ke medulla spinalis juga ke akson kolateral yang mengandung CGRP (calcitonin gen related peptide) dan bersinap akso-aksonik dengan akhiran saraf simpatis di sekitar pembuluh darah. Pelepasan asetilkolin oleh akhiran saraf simpatis yang teraktivasi menyebabkan vasodilatasi local di sekitar lokasi penjaruman.
Vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler, selain karena reaksi inflamasi dan reflex akson, juga karena terjadi reflex vasomotor segmentar medulla spinalis, serta serabut eferen kolinergik dari pusat saraf otonom di hipotalamus anterior.
Terjadinya vasodilatasi dan penigkatan permeabilitas kapiler menyebabkan berbagai sisa metabolism terangkut, pasokan ATP, nutrisi dan oksigen menjadi lancar; produk reaksi inflamasi difagositosis/dilisis dan mediator yang teraktivasi diinaktivasi.
c. Arus listrik dari perlukaan
Titik akupuntur mempunyai tegangan listrik lebih tinggi dari kulit sekitarnya. Tegangan listrik yang melewati lapisan epidermis adalah 20-90 milivolt, dengan kutub positif di dalam dan kutub negative di luar. Pelukaan kulit akan menimbulkan arus pendek.
Penjaruman menurunkan tahanan listrik berbarengan dengan menghasilkan arus listrik searah sebesar 10 mikroamper dimana kutub negative berada di bekas lubang tusukan dan kutub positif terletak di tepi luka.
Fenomena ini berlangsung selama lebih kutang 48 jam yaitu waktu yang dibutuhkan tubuh untuk menyembuhkan luka tusukan.
Degenerasi aksonal atau demielinisasi segmental menyebabkan saraf yang rusak menjadi peka berlebihan terhadap asetilkolin.
Arus listrik searah yang dihasilkan penjaruman mengurangi kepekaan saraf tersebut dan memicu proses regenerasi saraf.
B. Efek Sistemik
a. Efek analgetik
Efek analgetik tindakan akupuntur dimediasi oleh endorphin atau oleh serotonin. Penjaruman lokasi bukan titik akupuntur tidak menimbulkan efek analgesi, karena penjaruman itu tidak menuju substansia grisea perikuaduktus, sebagaimana rangsang titik akupuntur; tetapi menuju ke hipotalamus posterior dan nucleus sentromedian lateralis talami (bagian dari analgesia inhibitory system) dengan mediator kolesistokinin., suatu antagonis opiate endogen yang akan menduduki reseptor opiate di substansia grisea perikuaduktus
Pada rangsangan yang lama dan kuat, dapat menimbulkan Stress induced analgesia, yang tidak dapat dihilangkan oleh nalokson atau sinanserin, tetapi dapat dihilangkan dengan deksametason.
b. Efek regulasi
Tubuh manusia mempunyai kecenderungan mempertahankan homeostasis yang melibatkan : sistem saraf, endokrin dan mediator kimiawi.
Mekanisme kerja akupuntur dapat pula berupa :
1. Mekanisme spinal segemental
Mekanisme kerja akupuntur segmental memanfaatkan pola lengkung reflex kutaneoviseral atau somatoviseral baik secara segmental maupun intersegmental dengan melibatkan pula pusat rfleks yang lebih tinggi di hipotalamus anterior.
Pemanfaatan klinis akupuntur segmental untuk nyeri miofacial dan kelainan fungsi organ, membutuhkan pengetahuan persarafan kulit (dermatom), persarafan oto (miotom) dan persarafan organ (viserotom), sehingga dapat dipilih titik akupuntur, sesuai dermatom dari segmen yang sama atau berdekatan.
Neurotransmitter yang merangsang nyeri :
a. Endogenous opioid (enkefalin, dinorfin dan endorphin)
b. Somatostatin
c. Serotonin
d. Noradrenalin
e. Gamma Aminobutyric Acid (GABA)
f. Galanin.
2. Mekanisme heterosegmental (intersegmental) melibatkan beberapa sistem: serotonergik, adrenergic dan DNIC (Diffuse Noxious Inhibitory Control)
a. Serotonergik
Rangsangan penjaruman di bawa dari sel marginal ke nucleus ventroposterolateral thalamus lalu ke korteks cerebri sehingga rangsang disadari. Diotak tengah ada percabangan ke periaqueductl grey (PAG), dari sini turun ke nucleus raphe magnus di medulla oblongata yang mengeluarkan serotonin untuk dialirkan ke stalked cell (St).
Dari St melalui mekanisme enkefalinergik akan menghambat SG untuk menyalurkan hantaran nyeri dari serabut C untuk sampai ke WDR.
b. Adrenergik
Dari marginal sel ada proyeksi ke :
1. Nukleus paragigantocelullaris lateralis (PGC) melalui locus cereleus (LC) menghambat nyeri di level medulla spinalis
2. LC diperbatasan medulla oblongata dan pons melalui akson noradrenergic (NAD) menghambat neuron spinal.
c. Diffuse Noxious Inhibitory Controls (DNIC)
Dari sel marginal memberikan cabang ke subnukleus retikularis dorsalis di medulla oblongata bagian kaudal dari sini akan menghambat impuls nyeri di SG melalui mekanisme DNIC
Mekanisme kerja akupuntur yang lain :
1. Reaksi anti inflamasi
Cedera dinding sel akibat perangsangan titik akupuntur membebaskan asam arakidonat yang dengan bantuan lipooksigenasi diubah menjadi lekotrin, dengan bantuan sikloogsigenase diubah menjadi prostaglandin E-2, tromboksan dan prostasiklin; semua mediator inflamasi ini memicu terjadinya reaksi inflamasi local dan agregasi trombosit.
Reaksi inflamasi buatan berikut semua mediator kimiawi, ditindaklanjuti oleh tubuh dengan reaksi anti inflamasi yang menyeluruh.
2. Imunitas
Perangsangan titik akupuntur merusak endothelium pembuluh darah halus dan kapiler serta jaringan ikat., akibatnya dihasilkan fragmen kolagen, myofibril dan membrane basalis yang akan mengaktivasi sistem pembekuan darah secara bertingkat yaitu :
Yang pertama teraktivasi adalah faktor XII Hagemandari plasma dan jringan. Kinin protease dari sel mast dan basofil mengubah faktor XII menjadi faktor XIIa, yang selanjutnya mengkatalis plasminogen menjadi plasmin dan protrombin menjadi thrombin. Plasmin masuk dalam sistem komplemen imun melalui aktivasi C1, C3, dan C5 dari molekul protein plasma, sedangkan thrombin mengaktivasi C3.
Keikutsertaannya dalam sistem imunitas tidak spesifik yakni bersama dengan immunoglobulin membungkus benda asing, sehingga mudah difagositosis atau dilisis; bersamaan dengan kalikerin dan bradikinin menggerakkan reaksi imunitas tidak spesifik melalui pengaruhnya pada leukosit (kemotaksis, leukosistosis dan fagositosis).
Bossy (1990) dan Yuan et al (1993) menunjukkan adanya reseptor opiate di permukaan dinding sel limfosit T. interaksi reseptor opiate dengan endorphin memicu limfosit T berproliferasi, sehingga jumlah total limfosit T meningkat, demikian juga mediator kimiawi yang dihasilkan limfosit T (interleukin 1-6, gama interferon, dan Tumor Necrosis Factor (TNF). Pengaruh tidak langsung rangsang akupuntur terhadap limfosit melalui penyerapan Zn dan Cu. Akupuntur meningkatkan :
a. Penyerapan Zn (peningkatan kadar Zn darah)
b. Enzim superoksida dismutase (untuk menangkap radikal bebas superoksida)
c. Jumlah total limfosit
d. Rasio T helper : T suppressor
Selain memperbaiki imunitas seluler, akupuntur juga berefek pada imunitas humoral yaitu dengan meningkatkan produksi immunoglobulin.
BL-13 (Feishu/ Titik Shu Paru-Paru)
Keistimewaan : titik shu belakang paru-paru.
Lokasi : 1 1/2 cun dari sisi luar meridian GV, setinggi batas bawah thoraxl III (TH 3-4).
Cara menusuk : serong ke bawah/ tulang belakang sedalam 0.5-1 cun. Dilarang menusuk tegak lurus, bisa menyebabkan pneumothorax.
Aksi :
· Menguatkan qi paru-paru dan menutrisi yin paru-paru
· Menyebarkan dan menurunkan qi paru-paru
· Membersihkan panas dari paru-paru.
· Membebaskan eksterior.
Indikasi :
· Batuk, sulit bernafas, asma, dada penuh, nafas pendek dan tidak ingin bicara, rasa panas di dada, paru-paru dingin, batuk menetap pada anak-anak, susah bernafas saat terlentang, nyeri dada, batuk berdahak, paru-paru bernanah, angin menyerang paru-paru, nadi cepat, demam, keringat malam dengan demam menggigil dan tidak suka dingn, dingin menggigil, tidak berkeringat, obstruksi nyeri tenggorokan.
· athropia paru-paru, konsumsi dengan gangguan steaming bone, demam taxation defisiensi, demam pasang surut, keringat malam, meludah darah, gangguan BAB dan haus, mulut dan lidah kering, defisiensi agitasi.
· Mania, tubuh panas, berjalan marah dengan ingin bunuh diri,epilepsi.
· Rasa penuh dan tidak ingin makan, muntah, muntah cairan sehabis makan, muntah busa, gondok, sakit kuning, badan nyeri dan kulit gatal, urticaria.
· Bahu dan punggung nyeri, tulang belakang bengkok, punggung kura-kura pada anak-anak, pinggang nyeri dan kaku.
Pengobatan :
· Batuk berdahak : BL-13 feishu dan ST-40 fenglong.
· Nyeri dada : BL-13 feishu, LU-2 yunmen, LU-1 zhongfu, SP-1 yinbai, LR-14 qimen, BL-47 hunmen, PC-7 daling.
· Meludah darah : BL-13 feishu, LU-6 kongzui, PC-3 quze.
· Batuk dan suara serak : BL-13 feishu dan CV-22 tiantu.
· Demam musiman : BL-13 feishu dan DU-13 taodao.
Penjelasan :
Ads by Best Offers×BL-13 adalah titik shu belakang paru-paru dimana qi paru-paru berasal dari interior ke luar tubuh, dan seperti semua titik shu belakang, khususnya organ zhang (Yin) memiliki aksi kuat mengatur dan menguatkan organ yang terkait di level terdalam. BL-13 adalah titik terbaik untuk mengobati semua gangguan organ paru-paru. BL-13 adalah titik terutama untuk menguatkan qi paru-paru dan menutrisi yin paru-paru. Defisiensi qi paru-paru dapat berasal dari dasar defisiensi penyakit paru-paru sebelumnya, penyakit kronis, kesedihan mendalam, kerja di belakang meja berlebihan (khususnya membungkuk), kerja fisik berlebihan atau kurang berolahraga. Ini ditandai dengan gejala batuk lemah, sulit bernafas dan asma yang semakin parah saat beraktifitas, serta sesak nafas dan tidak ingin bicara. Menurut kedokteran Cina :"Paru-paru adalah pintu gerbang suara." Saat qi paru-paru kurang, akan kurang tenaga di dalam suara, berbicara langsung melemahkan pasien sehingga tidak niat berbicara.
Menurut Essential Questions :"Semua qi di bawah kendali paru-paru." Karena paru-paru mendominasi qi seluruh tubuh, akan terdapat tanda defisiensi qi secara umum seperti lelah, wajah pucat, dan nadi lemah. Dalam beberapa kasus BL-13 ditambah LU-9 taiyuan, CV-17 shanzhong, ST-36 zusanli, dan BL-20 pishu. Dalam kasus kronis, defisiensi qi paru-paru menyebabkan asma atau batuk yang semakin buruk saat musim dingin, gunakanlah moksa intensif saat musim panas.
Defisiensi yin paru-paru dapat berasal dari defisiensi qi paru-paru berkepanjangan, kerja berlebihan, demam yang mengonsumsi yin, atau defisiensi yin ginjal yang gagal menutrisi dan mendukung yin paru-paru. Ini ditandai dengan batuk atau asma kering, lendir yang diwarnai darah atau berserabut, keringat malam serta mulut, tenggorokan dan lidah kering. Dalam kasus lebih parah, terdapat demam pasang surut, gangguan steaming bone, defisiensi agitasi dan meludah darah. Dalam beberapa kasus ini, BL-13 ditambah BL-43 gaohuangshu, LU-9 taiyuan, BL-23 shenshu dan CV-4 guanyuan.
BL-13 juga untuk mengobati atrofi paru-paru dan konsumsi, yang menunjukkan kondisi lelah dan deplesi parah. Dalam atrofi paru-paru, paru-paru dikatakan layu dan mengerut, dengan cara yang sama anggota gerak juga kelihatan layu dan mengerut dalam gangguan atrofi. Sementara konsumsi secara luas berkaitan dengan tuberkulosis paru.
Aksi BL-13 tidak terbatas untuk menguatkan dan menutrisi paru-paru saja, namun juga sama pentingnya untuk mengobati semua bentuk penyakit paru ekses. Melalui aksinya mengatur qi paru dan membersihkan panas, BL-13 dapat digunakan untuk mengobati 1) panas ekses melanda paru, 2) retensi panas lembab atau reak panas dan, 3) racun panas menghambat paru-paru. Karenanya BL-13 dapat mengobati dada penuh, nyeri dada, abses paru, batuk berdahak, dan susah bernafas saat berbaring. Dalam beberapa kasus, BL-13 ditambah LU-1 zhongfu, contoh : prinsip menggabungkan titik mu depan dan titik shu belakang.
BL-13 juga titik penting untuk mengobati faktor patogen yang menginap di level taiyang atau defensif. Ditambah titik BL-12 fengmen, LI-4 hegu, LU-7 lieque bisa digunakan untuk membebaskan dan mengusir patogen yang mengikat di eksterior dan mengakibatkan demam menggigil dengan batuk, serta menyelaraskan qi nutrisi dan qi pertahanan (wei qi) dalam kasus keringat malam dengan demam menggigil dan tidak suka dingin. Menurut Warp and Wood of Warm Febrile Diseases ,"Paru-paru dan jantung saling terhubung, sehingga panas paru-paru paling mudah masuk ke jantung. Karena kemampuan membersihkan panas ekses/defisiensi dari paru-paru dan karena efeknya yang besar dalam mengumpulkan qi dan ciao atas, aksi BL-13 meluas ke jantung. Berbagai teks menyebutkan BL-13 untuk gangguan jiwa seperti mania, berjalan marah, dan bahkan ingin bunuh diri.
Paru-paru dan lambung memiliki hubungan dekat yang khusus. Keduanya memiliki aksi kuat dalam gerakan menurun, sementara paru-paru berasal dari ciao tengah area lambung. Kegagalan qi lambung untuk bergerak turun karena defisiensi atau stagnasi makanan dapat mengganggu fungsi paru-paru dalam gerakan turun, menyebabkan batuk dan sulit bernafas, sementara kegagalan qi paru-paru untuk turun menyebabkan qi lambung berlawanan. Sehingga BL-13 perlu ditusuk untuk rasa penuh dan tidak nafsu makan, muntah, muntah busa, muntah cairan sehabis makan dan khususnya muntah bergabung batuk.
Penggunaan penting yang lebih jauh dari BL-13 adalah gangguan paru yang menyebabkan nyeri di punggung atas. Dalam kasus anak-anak dengan defisiensi qi paru-paru parah, bahkan mungkin punggung terjadi kelainan bentuk bulat (punggung kura-kura). Kondisi ini mengacu kepada Essential Questions yang menyatakan :"Punggung adalah rumah dada dan saat punggung melengkung dan bahu membungkuk, rumah jatuh menjadi hancur."
Terakhir, menurut Illustrated Appendices to the Classic of Categories, BL-13 adalah satu dari lima titik (BL-13, BL-15 xinshu, BL-18 ganshu, BL-20 pishu, BL-23 shenshu) untuk membuang panas dari lima organ zan


